Kenaikan BBM Di Mata BJ Habibie
by
Kang
- 11:06 AM
Dengan penuh semangat Mantan Presiden BJ Habibie mengatakan bahwa “…Hentikan berpolemik!, eksekutif dan legislatif harus bekerjasama….” ungkapan ini dikeluarkan pada program Todays Dialogue yang disiarkan METRO TV pada pukul 22.00 tanggal 14 mei 2008.
Dialog ini cukup menarik karena mengangkat tema kenaikan BBM dunia yang berdampak pada perekonomian dalam negeri. Dihadiri oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla, Amien Rais tokoh reformasi, Kwik Kian Gie dan mantan kepada BIN Hendro Priyono.
Anda bisa membayangkan jalannya dialog yang terjadi pada saat itu, seperti biasa ketika ada dialog antara pemerintahan sekarang dan mantan pejabat pada pemerintahan sebelumnya.
Terkadang momen ini dijadikan kesempatan oleh para oknum yang ingin menjabat kembali atau yang berseberangan, untuk menyerang pemerintah, dengan maksud untuk menggoyang pemerintahan saat ini.
Namun pada malam tersebut ada yg berbeda dengan salah satu narasumbernya, yakni Mantan Presiden BJ Habibie, beliau melihat permasalahan yang dihadapi bangsa ini dengan proposional, artinya beliau menyadari bahwa kenaikan BBM ini adalah sebagai imbas dari naiknya harga BBM di tingkat dunia.
Beliau memberikan analisa, “…bangkitnya negara China dan India menyebabkan konsumsi energi keduanya meningkat….”, artinya ada permintaan yang meningkat pula terhadap BBM. Padahal sumber energi fosil ini semakin berkurang jumlahnya. Maka berlaku hukum ekonomi, jika permintaan meningkat sementara supply menurun/tetap akan menyebabkan harga naik. Itulah yang terjadi saat ini.
“….kita harus mulai mengurangi ketergantungan kita terhadap luar negeri….” maksud beliau adalah harga minyak di dalam negeri dibiarkan mengikuti harga pasar, seperti halnya di negara Singapore, namun beliau menambahkan “…sebelum dinaikan harus dipersiapkan terlebih dahulu….”. Jadi pemerintah tidak perlu mensubsidi BBM di dalam negeri, tetapi memindahkan subsidi kepada pendidikan, biaya kesehatan gratis.
Sayang sekali ide-ide segar beliau tidak bisa saya dengarkan lebih lama, karena waktu satu jam tidak terasa. Minggu depan akan disiarkan kelanjutannya.
Dalam program dialog ini mantan Presiden BJ Habibie menekankan untuk tidak berpolemik dan bagi eksekutif dan legislatif harus bekerjasama.
Terkadang saya heran sama bangsa ini, orang-orang seperti BJ Habibie ini kok dibiarkan begitu saja. Maksudnya, jarang sekali orang-orang cerdas seperti beliau diajak bermusyawarah untuk mengatasi masalah bangsa yang cukup kompleks ini. Apakah kita tidak membutuhkan orang-orang yang mampu “berfikir”? ataukah kita hanya memerlukan orang-orang yang pandai berpolitik dan berpolemik saja?
Padahal bangsa ini mempunyai sumber daya manusia yang tidak kalah dengan negara lain, buktinya banyak sekali anak-anak Indonesia lulusan luar negeri memilih untuk berkarir di tempatnya menuntut ilmu. Mereka tersebar di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia belum lagi negara-negara di Eropa.
Bangsa ini menantikan pemimpin yang matang dan mempunyai pemikiran yang dewasa. Andakah orangnya?
Semoga terinspirasi.
Salam
DS Rachmat
Dialog ini cukup menarik karena mengangkat tema kenaikan BBM dunia yang berdampak pada perekonomian dalam negeri. Dihadiri oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla, Amien Rais tokoh reformasi, Kwik Kian Gie dan mantan kepada BIN Hendro Priyono.
Anda bisa membayangkan jalannya dialog yang terjadi pada saat itu, seperti biasa ketika ada dialog antara pemerintahan sekarang dan mantan pejabat pada pemerintahan sebelumnya.
Terkadang momen ini dijadikan kesempatan oleh para oknum yang ingin menjabat kembali atau yang berseberangan, untuk menyerang pemerintah, dengan maksud untuk menggoyang pemerintahan saat ini.
Namun pada malam tersebut ada yg berbeda dengan salah satu narasumbernya, yakni Mantan Presiden BJ Habibie, beliau melihat permasalahan yang dihadapi bangsa ini dengan proposional, artinya beliau menyadari bahwa kenaikan BBM ini adalah sebagai imbas dari naiknya harga BBM di tingkat dunia.
Beliau memberikan analisa, “…bangkitnya negara China dan India menyebabkan konsumsi energi keduanya meningkat….”, artinya ada permintaan yang meningkat pula terhadap BBM. Padahal sumber energi fosil ini semakin berkurang jumlahnya. Maka berlaku hukum ekonomi, jika permintaan meningkat sementara supply menurun/tetap akan menyebabkan harga naik. Itulah yang terjadi saat ini.
“….kita harus mulai mengurangi ketergantungan kita terhadap luar negeri….” maksud beliau adalah harga minyak di dalam negeri dibiarkan mengikuti harga pasar, seperti halnya di negara Singapore, namun beliau menambahkan “…sebelum dinaikan harus dipersiapkan terlebih dahulu….”. Jadi pemerintah tidak perlu mensubsidi BBM di dalam negeri, tetapi memindahkan subsidi kepada pendidikan, biaya kesehatan gratis.
Sayang sekali ide-ide segar beliau tidak bisa saya dengarkan lebih lama, karena waktu satu jam tidak terasa. Minggu depan akan disiarkan kelanjutannya.
Dalam program dialog ini mantan Presiden BJ Habibie menekankan untuk tidak berpolemik dan bagi eksekutif dan legislatif harus bekerjasama.
Terkadang saya heran sama bangsa ini, orang-orang seperti BJ Habibie ini kok dibiarkan begitu saja. Maksudnya, jarang sekali orang-orang cerdas seperti beliau diajak bermusyawarah untuk mengatasi masalah bangsa yang cukup kompleks ini. Apakah kita tidak membutuhkan orang-orang yang mampu “berfikir”? ataukah kita hanya memerlukan orang-orang yang pandai berpolitik dan berpolemik saja?
Padahal bangsa ini mempunyai sumber daya manusia yang tidak kalah dengan negara lain, buktinya banyak sekali anak-anak Indonesia lulusan luar negeri memilih untuk berkarir di tempatnya menuntut ilmu. Mereka tersebar di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia belum lagi negara-negara di Eropa.
Bangsa ini menantikan pemimpin yang matang dan mempunyai pemikiran yang dewasa. Andakah orangnya?
Semoga terinspirasi.
Salam
DS Rachmat